Pagi,sore,malem dimanapun kalian berada semoga sehat walalfiat ya hehehe :D.Perkenalkan nama saya Raka Rizki Ramadhan, saat ini saya masih menginjak kelas 12 SMA. Ini pertama kali saya membuat Blog jadi harap di maklumi ya :v, ya wajarlah namanya juga pemula mesti ada kata kata yang keliru. Oke langsung aja ke topik, kali ini saya akan membahas tentang "KIDS JAMAN NOW"
hmm,apa itu kids jaman now, ya itu adalah anak jaman sekarang, anak jaman sekarang emang udah beda guys dari jaman dulu ,saya sendiri aja kangen masa masanya jaman dulu, sekarang mah kelakuan anak SD udah ada ada aja yang namanya pacaran, panggilan papi mami, uhh bikin gw mau muntah, faktanya lagi jaman now rata rata udah pada megang gadget, apa apa gadget, ahh pokoknya mau main aja pasti yang dipegang ujung ujungnya gadget,dasar kids jaman now. nih saya kasih pendapat dari kak seto tentang "KIDS JAMAN NOW"
Kak Seto: Kids Zaman Now itu Korban Lingkungan!
Posted on Nov 06, 2017
Generasi
Z adalah sebutan untuk generasi yang sejak ia bisa berjalan dan
berbicara, sudah akrab dengan internet. Generasi ini berbeda dengan
Generasi Milenial yang sempat merasakan dunia tanpa internet, karena
Generasi Z ini jauh lebih muda. Di negara-negara maju, Generasi Z ini
kelahiran tahun 1995 dan setelahnya, atau yang saat ini sudah, atau
belum berusia 22 tahun. Tapi patokan usia ini jadi agak berbeda di
masing-masing negara. Negara-negara berkembang seperti Indonesia
memiliki generasi Z yang lebih muda, yakni di usia 20 tahun ke bawah.
Mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai “Kids Zaman Now”.
Kids Zaman Now sejak kecil sudah erat dengan gadget dan
internet, dan masa remajanya jadi ketergantungan. Lebih banyak interaksi
online daripada offline, semua hiburan mulai dari
baca, nonton, dan komunikasi dilakukan melalui internet. Tapi mereka ini
jadi jauh lebih melek teknologi dan bisnis, juga lebih kreatif
dibanding generasi sebelumnya.
Mereka jugalah kreator-kreator internet zaman now. Mulai dari video, ilustrasi, komik, bahkan yang receh seperti meme, juga sudah jadi hiburan tersendiri. Ditandai dengan semakin maraknya page-page meme yang terus tumbuh, walaupun terkadang nir-faedah dan terlalu vulgar. Tidak hanya visual, istilah-istilah unik yang nyeleneh pun muncul menyertai budaya meme
ini. Seperti “Kids Jaman Now” yang kemudian diperbaiki oleh Kemdibud
menjadi “Kids Zaman Now” untuk menggantikan isitilah “Anak Zaman
Sekarang”.
Diantara semua meme-meme yang berkembang, ada
satu figur yang paling sering dijadikan bahan meme, atau disebut juga
sebagai “Memelord” bagi Kids Zaman Now. Ada banyak akun yang mengklaim
tentang dirinya, ada banyak foto yang diedit, bahkan dengan kata-kata
kotor, dan terus menjadi misteri apakah akun-akun ini benar milik Kak
Seto, atau
Seto Kaibahanya bocah-bocah yang ingin rambutnya setebal Kak Seto…
#CREATORofTHEWEEK
Sebelum menjadi polemik yang berkepanjangan, apalagi sampai semua kids
masuk penjara, tim POPCON Media pun langsung bertemu dengan Kak Seto
yang asli untuk mendapatkan konfirmasi. Berikut ini wawancaranya:
[POP] Bagaimana Kak Seto meliat fenomena Kids Zaman Now ini?
Anak-anak selalu menjadi korban dari zamannya, karena anak-anak
belajar dari lingkungannya. Lingkungan yang membentuk mereka. Kalau
lingkungannya sudah canggih, itulah dunia mereka. Mereka ngga bisa
ditarik mundur, disuruh main benthik, engklek, waduh itu jadul banget.
[POP] Jadi bagaimana kita harus menyikapinya?
Ibaratnya mereka ini sudah sangat adaptif, melek
teknologi, anak-anak yang sudah sangat super spesialis di bidang itu,
jangan ditarik mundur. Kecanggihan mereka ini justru harus bisa
dimanfaatkan oleh “Kids Zaman Old” untuk merebut berbagai peluang yang
ada, agar tidak kalah dari Korea, Jepang, Tiongkok, dan sebagainya.
Karena kedepannya tidak hanya transportasi, retail saja mulai bangkrut.
Kids Zaman Now-lah yang harus mengisi dan mengatasinya. Kemampuan mereka
harus dimanfaatkan untuk hal yang positif, dengan pengarahan-pengarahan
yang dikaitkan dengan kreatifitasnya, bisa menjadi peluang emas untuk
kejayaan Indonesia di tahun 2045.
[POP] Tapi kebanyakan orang tua menganggap mereka biang masalah dan sulit diatur?
Itulah pentingnya agar orang tua jangan gaptek, arahkan anak-anak ini dengan aktifitas yang seimbang. Kalau main gadget dianggap kurang bergerak, ajak main gadget
yang banyak bergerak. Kalau kurang berteman, ajak lingkungan di rumah
untuk membuat kelompok-kelompok bermain, agar bisa bermain bersama. Jadi
bagaimana peran orang tua untuk memanfaatkan situasi seperti ini jadi
sesuatu yg menguntungkan dalam segala aspek kehidupan. Termasuk membantu
mengatasi tantangan bisnis, nasionalisme, dan sebagainya.
Karena sekarang ini untuk membuka berbagai macam usaha,
misalnya makanan, sudah bisa diatasi dengan aplikasi atau internet.
Go-Jek adalah salah satu contoh terobosan cemerlang. Ke depannya sekolah
juga bisa bangkrut karena belajar tidak perlu lagi datang ke sekolah.
Dengan homeschooling, belajar matematika, biologi, diferensial integral bisa dikuasai lebih cepat cukup dari rumah.

[POP] Jadi Kak Seto melihat mereka lebih pada potensinya ya?
Ya karena kemampuan mereka dalam mengadaptasi teknologi
ini harus dimanfaatkan. Kalau tidak waspada, tidak memanfaatkan kemajuan
teknologi sebagai keniscayaan di masa depan, semua yang OLD itu akan
gulung tikar. Transportasi sudah goyah, retail goyah, dan berikutnya
institusi sekolah.
[POP] Bagaimana dengan anggapan kalau mereka ini generasi yang malas membaca?
Yang penting bukan bukunya secara fisik, karena sekarang sudah ada e-book.
Bisa dibuka di mana-mana. Jangan sampai memupuk minat baca hanya sampai
memupuk minat membeli buku. Karena tanpa buku pun sekarang kita sudah
bisa membaca, dan memperoleh manfaat positif dari membaca. Kalau dulu
pakai batu tulis, kertas, sekarang kita bisa pakai gadget. Di situlah maknanya kita yang harus memperalat gadget, jangan gadget yg memperalat kita. Jangan hanya bisa pakai ala kadarnya, tapi belum bisa memanfaatkannya dengan benar dan maksimal.
[POP] Tapi kebanyakan orang tua juga takut kalau gadget dan internet itu lebih banyak membawa hal negatif, seperti pornografi?
Jangan sedikit-sedikit takut akan hal porno. Trus
dikatakan gadget bikin kita belajar porno, ya jangan pornografinya yang
dibuka, gunakan untuk hal lain. Pengarahan yang seperti itu juga sudah
bisa dilakukan untuk anak usia dini. Jadi gadget jangan diberikan hanya
untuk mendiamkan mereka, tapi sekaligus untuk diarahkan untuk
mempelajari banyak hal baru yang positif.
[POP] Usia berapa menurut Kak Seto anak boleh diberikan gadget dan internet?
Usia tiga tahun sudah bisa. Yang penting diarahkan dan
harus seimbang dengan aktifitas fisik lainnya, seperti olahraga, jadi
seimbang, tidak menjadikan anak malas bergerak. Juga tetap diarahkan
untuk bersosialisasi, melihat alam, agar ada kesimbangan hidup, kuncinya
di orang tua. Jadilah sahabat buat anak.

[POP] Nah, sekarang pertanyaan penting nih dari para warga net. Kak Seto sebetulnya punya akun socmed atau tidak?
Saya terus terang tidak punya, karena saya tidak mau
terlalu larut di dunia maya. Karena kita juga harus punya keseimbangan
hidup.
[POP] Jadi bagaimana Kak Seto bisa mengetahui perkembangan meme-meme di internet?
Ada anak-anak saya yang memantau. Saya tahu sekarang banyak meme-meme
segala macam tentang saya. Dari instagram, juga socmed lainnya, ada
akun-akun palsu tentang saya, kemudian diedit wajahnya, dari yang ini,
itu, nanti ada yang jadi perempuan, segala macam.
[POP] Lantas bagaimana Kak Seto menyikapinya?
Biar saja, orang juga sudah punya pikiran sehat kok, bisa membedakan mana yang benar dengan mana yang tidak.
[POP] Kak Seto tidak melihat itu akan menjadi kebablasan?
Yang sleding-sleding gitu kan? Anak saya malah heran
kenapa Ayahnya cuma ketawa. Ya kenapa harus stress? Yang penting
bagaimana sikap nyata kita di masyakarat. Saya juga menganggap itu
bagian dari dinamika anak-anak muda, agar mereka juga bisa menggunakan
logika dan bertindak kritis dalam berkreasi dan bersosialisasi.
[POP] Berarti tetap kembali ke orang tua ya untuk menjaga mereka agar tetap sesuai aturan?
Di situlah pentingnya peran orang tua. Bisa jadi mereka
kurang diperhatikan. Harus ada hubungan interpersonal yang akrab di
dalam keluarga. Dalam keluarga, saya tidak memposisikan sebagai bos,
tapi sebagai sahabat bagi anak-anak saya. Jadi anak-anak akrab sekali
dengan saya. Mereka bisa mengkritik saya, mengingatkan saya, memberikan
masukan-masukan, dan sebagainya.
[POP] Jadi Kak Seto tidak melarang semua bentuk “kreatifitas” ini?
Ya agar mereka juga tidak asing dengan dunia yang terus
berubah ini. Sambil didukung dengan sistem pendidikan formal &
informal di dalam keluarga sebagai penjaganya. Komunikasi yang dirancang
untuk berpikir kreatif untuk memanfaatkan sisi positif dari gadget
harus terus ditingkatkan.
[POP] Kak Seto juga dikenal sebagai kreator ‘Si Komo’, apakan ada rencana untuk dihidupkan lagi?
Si Komo memang dihidupkan lagi. Maskot khas indonesia ini
harus bisa kembali digemari, diminati anak-anak, dan menjadi media
pendidikan bagi mereka. Kalau dulu Komo boneka tangan, sekarang sudah
seperti Barney, jadi bisa langsung berinteraksi dengan anak-anak.
[POP] Segmentasinya tetap ke anak-anak atau juga menyasar ke Kids Zaman Now?
Segmennya tetap untuk anak usia sekolah dasar. Karena di
usia itu pentingnya belajar etika, estetika, keindahan, bertutur kata,
bertingkah laku, bersahabat, nasionalisme, dan cinta tanah air untuk
mulai ditanamkan.
[POP] Terakhir, apa pesan Kak Seto untuk Kids Zaman Now?
Maju terus dengan kreatifitas kalian, karena sekarang ini
cerdas saja tidak cukup. Karena kalau cerdas saja, itu hanya menggunakan
otak kiri. Agar dua sisi otak terpakai, otak kanan juga perlu dilatih,
dan gadget bisa menjadi medianya untuk mengasah kreatifitas. Jangan sampai kita yang diperalat oleh gadget dan internet, kita yang harus bisa memanfaatkannya.
——————
Nah, jadi kalian sekarang aman ya…——————
Tidak perlu takut di-sleding kepalanya satu-satu, apalagi sampai jadi tersangka. Karena Kak Seto menghargai kreatifitas kalian, tinggal kalian yang harus bisa menjaga etika, membedakan mana yang baik dan bermanfaat, dan mana yang tidak. Salut untuk Kak Seto!